Langkah Dosen FTI ITB Bangun Kolaborasi Internasional Hadapi Krisis Iklim di Asia Tenggara
Perubahan iklim global kini semakin terasa dampaknya, terutama di kawasan tropis seperti Asia Tenggara. Suhu yang terus meningkat, kelembapan tinggi, serta pertumbuhan kota yang pesat membuat kebutuhan energi—khususnya untuk pendinginan bangunan—ikut melonjak. Kota-kota besar seperti Jakarta, Kuala Lumpur, dan Bangkok menghadapi tantangan ganda: menjaga kenyamanan hidup warganya sekaligus menekan emisi karbon agar tidak semakin memperparah krisis iklim. Dalam situasi ini, kolaborasi lintas negara menjadi langkah penting untuk menemukan solusi yang tepat dan berkelanjutan.
Peran aktif dalam menjawab tantangan ini ditunjukkan oleh Fakultas Teknologi Industri (FTI) Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui kegiatan Research Matchmaking–Equity 2025 yang dilaksanakan oleh salah satu dosennya, Dr. Eng. Solli Dwi Murtyas, S.T., M.Eng. Program ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat jejaring riset internasional sekaligus merumuskan agenda penelitian bersama di bidang lingkungan binaan dan adaptasi perubahan iklim.
Kegiatan ini berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama dilaksanakan pada 25 Maret hingga 6 April 2026 di Kyushu University, Jepang. Di sini, Dr. Solli melakukan diskusi intensif bersama Prof. Aya Hagishima dari Laboratory of Sustainable Built Environment. Salah satu hasil utamanya adalah penyusunan awal proposal riset bersama untuk skema Kakenhi 2026, yang berfokus pada pengembangan bangunan responsif iklim di kawasan tropis. Selain itu, dilakukan pula finalisasi manuskrip ilmiah yang ditargetkan untuk publikasi di jurnal internasional bereputasi. Tidak hanya itu, jejaring akademik yang terbangun juga membuka peluang lebih luas, termasuk undangan untuk bergabung sebagai bagian dari academic committee pada IEICES Conference 2026 sebagai perwakilan Indonesia.
Tahap kedua kegiatan dilanjutkan pada 14–17 April 2026 di Malaysia-Japan International Institute of Technology (MJIIT), Universiti Teknologi Malaysia. Pada tahap ini, kolaborasi diarahkan pada implementasi yang lebih aplikatif. Pertemuan dengan Prof. Sheikh Ahmad Zaki di Tropical Indoor Environment Research Laboratory menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, termasuk rencana joint supervision bagi mahasiswa pascasarjana, baik magister maupun doktoral. Selain itu, diinisiasi pula program student research visit sebagai bagian dari pertukaran akademik antar institusi.
Kolaborasi ini juga membuka peluang co-authorship dalam publikasi ilmiah internasional, serta pengembangan agenda riset bersama yang lebih terarah. Fokus penelitian ke depan mencakup peningkatan kualitas lingkungan dalam ruang (indoor environmental quality) dan ketahanan bangunan terhadap perubahan iklim. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga memastikan kenyamanan dan kesehatan penghuni bangunan.

Lebih dari sekadar kegiatan akademik, research matchmaking ini menunjukkan komitmen FTI ITB dalam berkontribusi pada solusi global berbasis riset. Dengan memperkuat kolaborasi antara Jepang, Malaysia, dan Indonesia, kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mendorong inovasi yang relevan bagi kawasan tropis.
Ke depan, kolaborasi semacam ini diharapkan terus berkembang dan melibatkan lebih banyak peneliti serta mahasiswa. Dengan demikian, ITB—khususnya Fakultas Teknologi Industri—tidak hanya menjadi pusat pendidikan unggulan, tetapi juga motor penggerak inovasi untuk masa depan kota yang lebih berkelanjutan, nyaman, dan tangguh terhadap perubahan iklim.